PENGARUH MORFOLOGI LOKAL TERHADAP PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT

  • A. Isjudarto

Abstract

Nikel merupakan salah satu kebutuhan manusia akan logam. Secara umum nikel dapat terbentuk secara primer maupun sekunder atau yang sering disebut sebagai nikel laterit. Endapan nikel yang terdapat di Indonesia hanya dijumpai dalam bentuk nikel laterit. Batuan induk endapan Nikel laterit adalah batuan ultrabasa; umumnya dari jenis harzburgit (peridotit yang kaya unsur ortopiroksen), dunite dan jenis peridotite yang lain. Oleh karena adanya proses pelapukan menyebabkan terjadi proses pengkayaan sekunder yang meningkatkan kadar Ni dalam batuan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan nikel laterit adalah batuan asal, iklim, reagen- reagen kimia, struktur, topografi serta waktu.

Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya nikel laterit.
Dalam tulisan ini penulis mencoba membahas pengaruh morfologi lokal terhadap ketebalan pembentukan nikel laterit. Metode yang digunakan dengan membandingkan morfologi lokal (punggungan, lembah, lereng bukit) dan ketebalan nikel yang dihasilkan dari kegiatan pemboran sebanyak 34 titik bor.

Dari hasil pengamatan data dapat disimpulkan bahwa pada daerah puncak bukit bukit ketebalan nikelnya relatif tipis, pada daerah lembah endapan laterit cenderung untuk membentuk zona limonit, sedang pada daerah lereng bukit zona saprolit yang paling tebal.

Published
2015-10-12
How to Cite
Isjudarto, A. (2015) “PENGARUH MORFOLOGI LOKAL TERHADAP PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT”, ReTII, 00. Available at: //journal.itny.ac.id/index.php/ReTII/article/view/139 (Accessed: 25June2024).