Pembentukan Silicified Wood (Silicified Coal) di Lapisan Batubara Seam-1 dan Dampak Operasional Penambangan, Daerah Muara Wahau, Kab. Kutai Timur, Kalimantan Timur

  • Basuki Rahmad Teknik Geologi UPN "Veteran" Yogyakarta

Abstract

Target penelitian ini  adalah membahas terjadinya silicified wood (silicified coal) yang terdapat di lapisan batubara Seam-1 dan Seam-2, serta dampak alat berat yang menggali lapisan batubara tersebut. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan ketika proses operasional penambangan berlangsung. Data silicified wood ditemukan di lapangan di dalam Seam-1 berbentuk bongkah bulat batang kayu tersilisifikasikan (silisified wood) berukuran diameter 30 cm dan bongkah persegi batang kayu tersilisifikasikan berukuran 20cmx60 cm. Jejak jaringan serat kayu masih tampak dipermukaan bongkah-bongkah silisified wood tersebut, demikian juga dari kenampakan mikroskopis terlihat jaringan kayu dan kuarsa hasil proses silisifikasi. Sumber data berasal dari inti bor BR-001, Seam-1 (tebal 40 m) ditemukan di kedalaman 11.40 m – 51.40 m, sedangkan Seam-2 (tebal 27 m) ditemukan di kedalaman 59.10 m – 88.20 m.  Sampel batulempung diambil di kedalaman 9.30 – 9.35m; 55.80 – 55.85 m; 72.80 m– 72.85 m; 102.20 m – 1 02.25 m dan 123.45 m – 123.50m. Berdasarkan analisa XRD dari semua sampel batulempung, secara umum mineral lempung yang hadir adalah kaolinite, montmorillonite dan kristobalite. Mineral lempung tersebut terjadi pada kondisi lingkungan pH asam pada temperatur berkisar 100o – 120o C. Pembentukan silicified wood dalam Seam-1 disebabkan oleh  proses pengendapan koloid silika dari kaolin dalam batulempung tufaan sebagai sedimen roof lapisan batubara seam-1 dan koloid silika masuk ke dalam rongga pori jaringan serat kayu dari arang kayu (charcoal) tersebut menjadi menjadi silicified coal. Kondisi ini terjadi ketika proses pembatubaraan berlangsung.Kehadiran silisicied wood dengan kuat tekan yang bervariasi antara 7407,25 kpa - 22.487,28 kpa dapat merusak gigi excavator dan gigi crusher  ketika operasional penambangan dan prosesing batubara berlangsung, untuk itu disarankan perlu dilakukan investigasi di ROM tambang dan front tambang.

References

[1] Allen G.P., and Chambers L.C., 1998. Sedimentation in the Modern and Miocene Mahakam Delta, Indonesian Petroleum Association. 231p.
[2] Amijaya, H., Tambaria, T.N., and Murti, H.T.B (2016) Mineralogy of Silicified Coal in Muara Enim Formation, Tanjung Enim, South Sumatera., Sriwijaya International Conference on Engineering, Science and Technology 2011.
[3] Dietrich, D., Lampke, T., Robler, R. 2012. A Microstructure Study on Silicified Wood From The Permian Petrified Of Chemitz. Springer-Verlag Berlin Heidelberg.
[4] Haldar, S. K., 2020. Introduction to Mineralogy and Petrology. Science Direct Elsevier Second Edition.
[5] Ott, H.L., 1987. The Kutai Basin a Unique Structural History, Proceeding IPA 16th Ann,Conv. p.307-316.
[6] Sigleo, A.C., (1978) Organic Geochemistry of Silicified Wood, Petrified Forest., National Park, Arizona., Geochimica et Cosmochimica Acta, Vol. 42, 13971405.
[7] Stach, E., Mackowsky, M., Th., Teichmuller, M., Tailor, G.H., Chandra, D. & Techmuller,R., 1982. Stach’s Textbook.
[8] Supriatna, S., Abidin, Z.A., 1995. Geological Map of Muara Wahau, Sheet, Scale 1:250.000. Geological Research and Development Center, Bandung.
Published
2021-11-09
How to Cite
Rahmad, B. (2021) “Pembentukan Silicified Wood (Silicified Coal) di Lapisan Batubara Seam-1 dan Dampak Operasional Penambangan, Daerah Muara Wahau, Kab. Kutai Timur, Kalimantan Timur”, ReTII, pp. 535 - 543. Available at: //journal.itny.ac.id/index.php/ReTII/article/view/2737 (Accessed: 28May2022).