Pengaruh Eksistensi Tanah Adat Terhadap Perkembangan Fisik Perkotaan di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur

Authors

  • Brayen Lidowijaya INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA
  • Iwan Priyoga Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta
  • Dwi Kunto Nurkukuh Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Abstract

Eksistensi tanah adat berperan penting dalam identitas, penghidupan, dan budaya masyarakat adat. Penelitian ini menganalisis pengaruh tanah adat terhadap perkembangan fisik kota di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, dalam aspek spasial dan teritorial. Tanah adat sering berada di lokasi strategis yang menjadi target pembangunan, sehingga berpotensi menimbulkan konflik tata ruang. Dengan metode analisis spasial overlay peta temporal dan analisis deskriptif, penelitian mengevaluasi perubahan lahan adat dalam periode 2004-2024. Hasilnya menunjukkan bahwa perkembangan fisik kota terkonsentrasi di bagian tengah dan timur, khususnya di Kecamatan Barong Tongkok, Muara Pahu, dan Damai. Pembangunan mengikuti pola linear sepanjang jalan utama, dengan kluster pertumbuhan di pusat kecamatan. Kawasan adat inti seperti Sembuan dan Benuaq Muara Tae tetap terlindungi, sementara wilayah Hemaq Beniung mengalami tekanan pembangunan, dengan konversi lahan sebesar 0,375 Ha (0,76%). Barong Tongkok mengalami peningkatan lahan terbangun signifikan dari 1,48 Ha (2004) menjadi 1.474,27 Ha (2024), memberikan tekanan terhadap hutan adat Hemaq Beniung. Ekspansi kota berpotensi mengancam fungsi ekologis dan kultural tanah adat, menciptakan konflik antara pembangunan dan pelestarian. Hemaq Beniung juga berkembang sebagai objek wisata alam, mendorong fasilitas pendukung seperti penginapan dan restoran. Studi ini menegaskan pentingnya pendekatan tata ruang inklusif untuk menjaga keberlanjutan tanah adat di tengah pesatnya perkembangan kota.

Downloads

Published

2025-03-20

Issue

Section

Articles