MODEL PEMETAAN RESIKO BANJIR KOTA YOGYAKARTA DALAM MANAJEMEN MITIGASI RESIKO BENCANA BANJIR

  • Achmad Wismoro

Abstrak

Kawasan perkotaan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dan berfungsi sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Semen-tara itu, dalam menerjemahkan permukiman sebagai bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan  peng-hidupan.  Tujuan  penelitian  adalah tindakan-tindakan  manajemen  mitigasi resiko  banjir yang dirumuskan  dan ditetapkan  ber-dasarkan  ketinggian  daerah  di  atas  permukaan  air  laut  rata-rata  di  lingkungan    permukiman  di  kota Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatip, dengan pendekatan purposive sampling, analisa data kualitatif, grounded theory, dan desain sementara diputar hingga jenuh. Data primer diperoleh melalui observasi, sementara data sekunder diperoleh melalui dokumentasi. Lokasi penelitian di 14 (empat belas) Kecamatan yang ada di  Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Hasil Penelitian Model Pemetaan Resiko Banjir Kota Yogyakarta dalam Manajemen Mitigasi Resiko Bancana Banjir, ada 3 hasil temuan yang perlu diperhatikan yaitu.1). \Kondisi Ketinggian daerah-daeah di atas permukaan air laut rata-rata di Kota  Yogyakarta  yang  dikelompokkan  dalam  5  (lima)  Wilayah.  Untuk  Wilayah  I  :  Ketinggian  Daerah/lahan  di  atas permukaan air laut rata-rata = ± 91 m - ± 117 m, Wilayah II. Ketinggian Daerah/lahan di atas permukaan air laut rata-rata = ±97 m - ± 114 m, Wilayah III. Ketinggian Daerah/lahan di atas permukaan air laut rata-rata = ± 102 m - ± 130 m, Wilayah IV. Ketinggian Daerah/lahan di atas permukaan air laut rata-rata = ± 75 m - ± 102 m, Wilayah V. Ketinggian Daerah/lahan diatas permukaan air laut rata-rata = ± 83 m - ± 102 m, 2). Diantisipasi penanganan dalam a).penanggulangan resiko bencana banjir terutama dalam perkembangan tata wilayah yang sering tidak bisa dikendalikan, sehingga mengarah ke perusakan DAS dan menjarah daerah resapan dan b). perubahan tata guna lahan yang akan menyebabkan retensi DAS berkurang secara drastis  juga ekosistem akan hilang secara simultan rusak.3). Hujan bukanlah penyebab utama banjir dan tidak selamanya hujan dapat menimbulkan banjir. Terjadi atau tidaknya banjir justru sangat tergantung dari a) faktor hancurnya retensi Daerah Aliran  Sungai  (DAS),  b).faktor  kesalahan  perencanaan  pembangunan  alur  sungai,  c)  faktor  pendangkalan  sungai  dan d).faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan prasarana.

Diterbitkan
2015-10-12