Kontrol Fasies dan Lingkungan Pengendapan terhadap Kualitas Batubara Formasi Warukin di Daerah Haruai, Tabalong, Kalimantan Selatan

Kontrol Fasies dan Lingkungan Pengendapan (Nodyka Elkawi Hawinu, Muhammad Fatih Qodri, Andre Patriot Tampubolon)

Penulis

  • Nodyka Elkawi Hawinu Institut Teknologi Nasional Yogyakarta
  • Muhammad Fatih Qodri Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Kata Kunci:

Formasi Warukin, Fasies, Kualitas Batubara, Lingkungan Pengendapan

Abstrak

Endapan batubara pada Formasi Warukin di Kalimantan Selatan terbentuk dalam sistem deltaik yang kompleks, di mana variasi fasies dan lingkungan pengendapan berperan penting dalam mengontrol sebaran serta kualitas batubara. Pemahaman hubungan antara karakteristik litofasies, kondisi lingkungan pengendapan, dan parameter kualitas batubara menjadi aspek fundamental untuk interpretasi geologi endapan batubara. Analisis dilakukan berdasarkan data log bor (gamma ray dan densitas) serta deskripsi core untuk mengidentifikasi fasies dan lingkungan pengendapan. Hasil interpretasi menunjukkan tiga fasies utama, yaitu batupasir lempungan (Crevasse Splay–Interdistributary Bay), batulempung karbonan (Interdistributary Bay), dan batubara (Swamp). Secara keseluruhan, lingkungan pengendapan diinterpretasikan sebagai Transitional Lower Delta Plain yang dipengaruhi oleh aktivitas pasang surut dan sedimentasi halus. Analisis proksimat memperlihatkan nilai kalor batubara pada seam 6–9 berkisar antara 4968–5206 kcal/kg dengan kadar sulfur rendah (rata-rata 0,48%) dan kadar abu 18,38%. Karakteristik tersebut menunjukkan jenis batubara High Volatile C Bituminous hingga Subbituminous B Coal. Variasi litofasies dan dominasi sedimen halus pada lingkungan Transitional Lower Delta Plain berimplikasi terhadap penurunan nilai kalori akibat meningkatnya material pengotor selama proses pengendapan.

Referensi

Arif, I. I. (2014). Batubara Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Pahlevi, R., Thamrin, S., Ahmad, I., & Nugroho, F. B. (2024). Masa depan pemanfaatan batubara sebagai sumber energi di indonesia. Jurnal Energi Baru Dan Terbarukan, 5(2), 50-60.

ESDM. (2023). Outlook Energi Indonesia 2023. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Sukandarrumidi. (2008). Batubara dan Gambut. Gajah Mada University Press.

Darlan, Y., Zuraida, R., Purwanto, C., Sulistyanti, R., Setyabudhi, A., & Masduki, A. (1999). Studi Regional Cekungan Batubara Wilayah Pesisir Tanah Laut-Kotabaru Kalimantan Selatan. Direktorat Sumberdaya Mineral, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Horne, J.C. 1978. Depositional Models in Coal Exploration and Mine Planning in Appalachian Region. Texas: AAPG Convention SEPM, Houston

ASTM. (1981). Annual Book of ASTM Standards: Part 26, Gaseous Fuels; Coal and Coke; Atmospheric Analysis. American Society for Testing and Materials, Philadelphia.

Cook, A.C., 1999, The Origin and Petrology of Organic Matter in Coals. Oil Shales and Petroleum Source – Rocks, The University of Wollongong.

Diessel, C. F. K. (1992): Coal-bearing depositional systems, Springer-Verlag, Berlin, Heidelberg.

Kuncoro, Prasongko, B., 1996, Model Pengendapan Batubara Untuk Menunjang Eksplorasi Dan Perencanaan Penambangan, Program Pascasarjana, ITB, Bandung.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2025-11-25

Cara Mengutip

Hawinu, N. E. dan Muhammad Fatih Qodri (2025) “Kontrol Fasies dan Lingkungan Pengendapan terhadap Kualitas Batubara Formasi Warukin di Daerah Haruai, Tabalong, Kalimantan Selatan: Kontrol Fasies dan Lingkungan Pengendapan (Nodyka Elkawi Hawinu, Muhammad Fatih Qodri, Andre Patriot Tampubolon)”, Retii, hlm. 207–216. Tersedia pada: https://journal.itny.ac.id/index.php/ReTII/article/view/207-216 (Diakses: 4Juni2026).