Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal Dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas

Penulis

  • Elin Dea Putri Universitas Wijayakusuma Purwokerto
  • Dwi Jati Lestariningsih Ning Universitas Wijayakusuma Purwokerto
  • Dwi Istiningsih Universitas Wijayakusuma Purwokerto

DOI:

https://doi.org/10.33579/krvtk.v10i1.5533

Kata Kunci:

Pusat Kesenian Tradisional, Arsitektur Neo vernacular

Abstrak

Abstrak Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki keberagaman sumber daya manusia dan budaya. Keragaman bahasa, budaya, dan etnis tersebut telah melahirkan berbagai warisan budaya baik benda maupun non benda yang menjadikan ciri khas serta identitas bangsa Indonesia. Kabupaten Banyumas memiliki beragam kesenian tradisional yang potensial. Terjadinya perubahan secara terus menerus di bidang sosial budaya, yang dipengaruhi oleh pembaharuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan terbukanya informasi serta kemudahan dalam mengakses berbagai sumber, bisa menjadi ancaman dan tantangan tersendiri dalam mempertahankan budaya Banyumas tersebut. Untuk itu perlu adanya wadah, sebagai sarana untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian tardisional dalam bentuk pusat kesenian tradisional Banyumas. Penerapan konsep Arsitektur neo vernacular menjadi pilihan dalam perancangan, bertujuan untuk memadukan unsur-unsur tradisional lokal dengan langgam modern. Hal ini mencerminkan bahwa budaya local/tradisional setempat mampu menyelesaikan masalah sosial budaya melalui pendekatan arsitektural.

 

Kata kunci: Pusat Kesenian Tradisional, Arsitektur Neo vernacular

 

Abstract Indonesia is the country with the largest population in Southeast Asia, which has a diversity of human resources and culture. This diversity of languages, cultures and ethnicities has given birth to various cultural heritages, both tangible and intangible, which are the characteristics and identity of the Indonesian nation. Banyumas Regency has a variety of potential traditional arts. The continuous changes in the socio-cultural field, which are influenced by innovations in the field of science, technology and the openness of information and ease of access to various sources, can be a threat and challenge in itself in maintaining the Banyumas culture. For this reason, there needs to be a forum, as a means to preserve and develop traditional arts in the form of a Banyumas traditional arts center. The application of the neo-vernacular architecture concept is an option in the design, aiming to combine local traditional elements with modern styles. This reflects that local/traditional culture is able to solve socio-cultural problems through an architectural approach.

 

Keywords: Traditional Arts Center, Neo Vernacular Architecture

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Wonderland. Populasi Indonesia (2024). 2024.

M. Koderi, Banyumas Wisata dan Budaya, Purwokerto : Metrojaya, 1991.

Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Banyumas, Data dan Informasi Kabupaten Banyumas 2024, vol. 8, p. 362, 2024.

K. W. Kinanti, T. S. Pitana, dan S. Yuliani, “Gedung Seni dan Budaya Banyumas dengan Pendekatan Lokalitas di Purwokerto", Arsitektura, vol. 13, no. 2, pp. 1-8. 2015. doi: https://doi.org/10.20961/arst.v13i2.15644

G. Fajrine, A. B. Purnomo, dan J. S. Juwana, “Penerapan Konsep Arsitektur Neo Vernakular pada Stasiun Pasar Minggu”, Prosiding Seminar Nasional Cendekiawan, vol. 3, pp. 85-91, 2017.

A. Untiari, “Penerapan Konsep Neo Vernakular dan Kebutuhan Pengguna pada Desain Terminal Bus Tipe A di Jepara”, Jurnal Asiimetrik, vol. 4, no. 1, pp. 97-104, 2022.

D. Erdiono, “Arsitektur ‘Modern’ (Neo) Vernacular di Indonesia”, Jurnal Sabua, vol. l3, no.3, pp. 32-39, 2011.

I. Suhartono, Metode Penelitian Sosial. Bandumg : PT Remaja Rosdakarya, 2008.

Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif kuantitatif dan R & D. Bandung : Penerbit Alfabeta, 2013.

I. M. Winartha, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta : Gaha Ilmu, 2006.

Lembar Daerah Kabupaten Banyumas. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2005 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyumas. Nomor 10, tahun 2005 Seri: E.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas, Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Bulan di Kabupaten Banyumas, 2023.

R. Hakim, Arsitektur Lansekap Mansuia, Alam dan Lingkungan. Jakarta : Universitas Trisakti, 2003.

H. Saraswati, E. Iriyanti dan H. Y. Putri, Batik Banyumasan sebagai Indentitas Masyarakat Banyumas. 2021

Dinas Kebudayaan DIY, Batik Kawung. 2022. [Online]. Available: https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1152-batik-kawung

##submission.downloads##

Diterbitkan

2025-04-29

Cara Mengutip

[1]
E. D. Putri, D. J. L. Ning, dan D. Istiningsih, “Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal Dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas ”, Journal Technology of Civil, Electrical, Mechanical, Geology, Mining, and Urban Design, vol. 10, no. 1, hlm. 39–48, Apr 2025.